Petugas Memperlihatkan Kulit Biawak Ilegal Dalam Jumpa Pers, Kamis (30/08/2018) Di Kantor BKIPM Jambi

Jambi – Sebanyak 132 kulit biawak ilegal diamankan oleh petugas Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jambi. Kulit biawak air ini diamankan saat akan dikirim melalui Bandara Sultan Thaha Jambi.

“Kita amankan pada hari Jumat tgl 17 Agustus 2018, hal ini berkat kerjasama, koordinasi dan omunikasi antara BKIPM Jambi dan Avsec Bandara Sultan Thaha Jambi, dimana dalam pengiriman kulit biawak ini tidak dilengkapi dokumen resmi,” kata Kepala BKIPM Jambi, Ade Samsudin, Kamis (30/08).

Kulit Biawak sebanyak 1 koli, dengan berat 10 kg dan berisi 132 ini rencananya akan dikirim dengan tujuan Karawang melalui cargo sekitar pukul 14.45 wib, dengan menggunakan maskapai Garuda Indonesia.

Ade menjelasakan saat melewati pemeriksaan x-ray oleh petugas Aviation Security (Avsec) kargo Bandara Sultan Thaha Jambi, satu barang yang dipaket dari TIKI cabang utama Jambi terlihat menyerupai kulit reptil  yang  tertera pada layar monitor X-ray.

Kemudian atas dasar kecurigaan tersebut petugas Avsec bandara memanggil saudara Amril Hasibuan selaku  pengirim barang Dari TIKI dan petugas karantina  ikan yang sedang melaksanakan piket di kargo Bandara Sultan Thaha Jambi untuk bersama-sama melihat isi barang kemasan tersebut melalui layar.

“Dalam keterangan manifest TIKI paket tersebut ditulis ”bahan” atas anama Agus dengan tujuan Karawang, teryata dalam kemasan barang tersebut bukan berisi “bahan” yang  sebagaimana  tertuang  dalam resi pengiriman yang diterbitkan oleh TIKI Cabang Utama Jambi, namun berisikan 132 lembar kulit Biawak Air Tawar (Varanus salvator) dengan berat kemasan 10 kg tanpa dilengkapi dengan dokumen Kesehatan Ikan dan belum dilaporkan kepada petugas Stasiun KIPM Jambi,” terang Ade.

Tindakan pengiriman kulit biawak tersebut, kata Ade, diduga telah melanggar UU Nomor 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan pasal 31 ayat (1) jo. Pasal 6 huruf (a) dan (c) jo. Pasal (1) angka (10).

“Kami telah memberikan waktu selama tiga hari agar pemilik segera menghubungi kami untuk melengkapi dokumen resminya, namun hingga saat ini pemilik kulit ini tidak datang menghubungi, kami pun kesulitan mencari alamatnya karena alamat yang ditulis tidak lengkap, jadi kalau tidak resmi ini melanggar UU, dan terpaksa kami tahan untuk selanjutnya akan dimusnahakan, ” tandasnya.

(CN)

Komentar Akun Facebook