JAMBI – Program inovasi unggulan Wali Kota Jambi yang telah mendunia, “Bangkit Berdaya” dan “Kampung Bantar,” sepertinya telah menginspirasi berbagai pemerintah daerah di seluruh Indonesia.

Hal tersebut mengemuka saat Wali Kota Jambi DR. H. Syarif Fasha, ME didaulat menjadi narasumber pada acara Seminar Hasil Pengabdian Masyarakat Tahun 2017 Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang diselenggarakan selama 2 hari (12 s.d. 13 Januari 2017).

Seminar yang berlangsung di salah satu hotel terkemuka di Jambi itu turut dihadiri Rektor IPDN Prof. DR. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, jajaran pejabat utama IPDN, diantaranya Pembantu Rektor I IPDN Prof. Dr. Khasan Effendy, M. Pd, Pembantu Rektor II Dr. Dety mulyati, SH, CN, Kepala LPM IPDN Dr. H. Bayi Priyono, SH, MM, Kepala Lembaga Penelitian IPDN Prof. Dr. Wirman syafri, M. Si, Dr. Hj. Diah Anggraeni, SH, MM, para Direktur IPDN Kampus Daerah seluruh Indonesia, Oponen Utama serta Guru Besar IPDN.

Turut pula hadir pejabat utama daerah-daerah 12 Pemda lokasi pengabdian LPM IPDN, seperti Sekda Kota Palu, Asisten dan Camat Kota Balikpapan, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Natuna, Kabupaten Supiori, Kabupaten Roti Ndao, Kota Palu, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Kapuas Hulu, Kabupaten Trenggalek, Kota Ternate.

Kepala LPM IPDN, sekaligus sebagai Ketua Panitia Dr. H. Bayi Priyono, SH, MM, menjelaskan bahwa Kota Jambi memang dipilih sebagai tempat penyelenggaraan seminar hasil pengabdian masyarakat karena dinilai memiliki role model yang tepat bagi pelaksanaan pengabdian masyarakat IPDN, yaitu Bangkit Berdaya dan Kampung Bantar.

Bahkan di hari terakhir, seluruh peserta seminar meninjau langsung Kelurahan Penyengat rendah sebagai salah satu lokus acak percontohan program Bangkit Berdaya dan Kampung Bantar di Kota Jambi.

Seminar tersebut juga diisi dengan diskusi panel, yang disampaikan oleh tokoh penting. Diantaranya Rektor/Gubernur IPDN Prof. DR. H. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, Dr. Hj. Diah Anggraeni, SH, MH, Drs H. Mukhlis, M.Si (Sesditjen PPMD Kemendes PDT) dan Wali Kota Jambi Dr. H. Syarif Fasha, ME.

Pada acara pembukaan tersebut, Wali Kota Fasha diberi kehormatan pertama kali menyampaikan paparannya yang berjudul
“Smart City dan Peningkatan PAD Kota Jambi”.

“Di Kota Jambi, konsep Smart city tidak selalu berbicara tentang internet, namun kita berbicara tentang bagaimana “Kota Pintar” semestinya. Diawal kepemimpinan kami sebagai kepala daerah, kami mengoptimalkan kekuatan besar, yaitu partisipasi masyarakat dalam membantu pemerintah membangun Kota Jambi,” sebut Fasha.

Fasha juga menjelaskan bahwa strategi pembangunan dirinya dalam membangun Kota Jambi telah diukur secara cermat.

“Tahun 1 dan ke-2 kami membangun budaya dan mindset masyarakat untuk sadar dan berpartisipasi membangun Kota Jambi, melalui berbagai inovasi. Salah satunya adalah Bangkit Berdaya dan Kampung Bantar yang telah mendunia dan diakui secara Internasional. Inovasi tersebut terbukti efektif mengakselerasi pembangunan ditengah keterbatasan dana pembangunan. Di tahun 3 dan 4 baru kami fokus membangun teknologi Smart City, melalui berbagai aplikasi pelayanan publik,” jelas Fasha.

Fasha juga menjelaskan, dengan adanya strategi tersebut target pembangunan Kota Jambi yang tertuang dalam RPJMD selama 5 tahun, dapat di selesaikan hanya dalam kurun waktu 3 tahun. Tepat kiranya visi “Kota Jambi 3 Tahun Bangkit” dapat dilaksanakan dengan efektif olehnya.

Dalam acara itu, apresiasi pun turut disampaikan Rektor IPDN, Prof. Ermaya. Sebagai salah seorang pencetus konsep “Revolusi Mental” ala Presiden Jokowi. Ia menyebut Wali Kota Fasha sebagai seorang tokoh yang berhasil sebagai seorang pemimpin.

“Wali Kota Jambi melaksanakan kepemimpinan berdasarkan pengalaman dalam keterbatasan menjadi pembangunan yang maksimal. Beliau mengeluarkan dalil konsulat premis “Bangkit Berdaya” yang di analisa menggunakan ASOCA (Ability, Strength, Opportunity, Culture dan Agility). Model tersebut merupakan hasil nyata pengalaman yang direferensikan dengan teori secara akademis yang layak dijadikan model baru dan yang pertama di Indonesia. Model yang diciptakan Doktor Fasha dapat dipakai untuk seluruh Indonesia sesuai dengan karakter masing-masing. Saya lihat model ini bukan hanya untuk di Jambi saja, bahkan seluruh Indonesia bisa digunakan model beliau,” puji Ermaya.

Rektor IPDN itu menambahkan, semangat untuk terus belajar dan tidak berpuas diri akan pengetahuan, terus ditunjukkan oleh Wali Kota Fasha sebagai seorang pemimpin.

“Yang buat saya bangga adalah beliau selalu ingin terus belajar. Sebagai pemimpin harus banyak belajar. Banyak kegagalan pemimpin, jika sudah menjadi memimpin tidak mau belajar lagi. Beliau sudah jadi pemimpin bahkan sudah bergelar doktor, namun masih ingin belajar terus. Wujud nyata yang perlu dicontoh pemimpin lain,” sebut Gubernur IPDN tersebut. (hms/cn)

Komentar Akun Facebook