Jambiline.com, Bangkalan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan Madura menyatakan ada sekitar 25 Desa di 13 Kecamatan yang masuk kategori rawan kering kritis.

Salah satu wilayah terdampak krisis air adalah Kecamatan Geger. Sungai-sungai dan sumur warga mengering.

Mahmud, warga Desa Banyoneng Laok menyampaikan untuk memenuhi kebutuhan seperti mencuci pakaian, warga biasanya datang ke salah satu sumber mata air yang cukup besar. Terletak di Kampung/Desa Bangsereh, Kecamatan Sepulu.

Jarak antar sumber air dengan desa Banyoneng Laok mencapai sekitar 6 kilometer. Selain untuk memenuhi kebutuhan warga sumber tersebut juga biasa mengairi sawah warga.

“Jauh, tapi karena sudah kebutuhan, akhirnya ke sana juga,” kata pria 47 tahun, seperti dikutip dari laman Liputan6.com, Kamis (16/9/18).

Lebih lanjut dirinya mengatakan, selain memenuhi kebutuhan untuk mencuci, warga juga masih harus berjuang mendapatkan air bersih untuk dikonsumsi.

Di Desa Banyoneng Laok sendiri juga masih tersisa satu sumber mata air yang dimanfaatkan warga setempat maupun warga desa sekitarnya. Namun sumber air tersebut tidak besar.

“Warga dua Desa yang mengambil air di sumber ini. Desa Banyoneng Laok dan Banyoneng Dajah. Setiap hari pasti banyak yang datang,” katanya.

Untuk mendapatkan air tersebut, warga harus mengantre terlebih dahulu. Bahkan, warga harus mengantre berhari-hari. Paling cepat sehari semalam baru bisa dapat bagian mengambil air, mengingat sumber air tergolong kecil.

“Ada yang sampai lima hari. Kalau sedang banyak yang mengambil ke sini. Dan paling cepat, datang hari ini, besoknya baru bisa dapat giliran antre mengambil air,” katanya.

Ada juga warga yang terpaksa membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, harganya lun tidak murah. Satu tangki air bersih bisa mencapai Rp 220 ribu. Itu bisa memenuhi kebutuhan mandi, bersuci, dan kebutuhan lain. Satu tangki terkadang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan empat hingga lima hari.

“Tergantung pemakaian. Mandi tidak bisa tiga kali sehari. Harus mengirit air karena mahal. Terkadang, warga juga membeli air bersih dalam bentuk jeriken, per jeriken biasanya Rp 3.500,” pungkasnya. (Tri)

Komentar Akun Facebook