Jambiline.com, Batanghari – Pasca penerbitan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 33 tahun 2018 Tentang Penggunaan Vaksin Measles Rubella (MR), pro kontra kembali hadir di tengah masyarakat. Simpang siur kehalalan vaksin mengemuka di segala lini masa media sosial.

Untuk meluruskan hal tersebut, Kementerian Kesehatan RI kembali menggelar pertemuan dengan MUI dan Kepala Dinas Kesehatan dari 34 Provinsi di seluruh Indonesia.

Pembahasan fatwa vaksin MR ini merupakan permintaan Kemenkes pada 6 Agustus lalu. Saya hadir dalam undangan ini sekaligus menyampaikan fatwa yang diputuskan pada 20 Agustus malam bersama MUI.

Dalam proses pemeriksaan dan kajian oleh Komisi Fatwa MUI, disimpulkan bahwa dalam proses produksi vaksin MR memanfaatkan unsur yang berasal dari babi. Oleh karena itu, sesuai fatwa MUI sebelumnya, vaksin MR yang diproduksi Serum Institute of India (SII) adalah haram.

Oleh sebab itu, menurut MUI pelaksanaan imunisasi dengan vaksin MR dibolehkan asal memenuhi beberapa syarat, yaitu keterpaksaan atau sudah memenuhi ketentuan darurat syari, belum ada alternatif vaksin halal dan suci, serta ada keterangan ahli yang kompeten tentang bahaya bayi yang tidak diimunisasi.

Seperti halnya di Kabupaten Batanghari, masalah vaksin MR sedikit membuat warga Muslim bertanya-tanya. Karena sebagian tidak mau anaknya di suntik vaksin MR.

Seperti yang ungkapkan Linda, dirinya sangat menyesali atas anaknya di suntik vaksin MR di sekolahnya, karena dia tak ikhlas kalau vaksin haram itu masuk ke dalam tubuh anaknya. ” Saya gak rela anak saya di suntik vaksin MR, ini tanpa persetujuan dari kami sebagai orang tuanya, tiba-tiba anak kami di suntik. ” Kesalnya.

Sementara terkait hal tersebut, Jambiline.com langsung menanyakan langsung kepada Kadis Kesehatan Batanghari, Elfi, apakah sebelum suntik harus ada persetujuan dari orang tua murid atau boleh tanpa izin.” Tidak perlu izin khusus, karena ini program nasional, sifatnya imunisasi wajib.” Jawabnya, Selasa (28/8/2018) saat dikonfirmasi via whatsapp.

Tetapi kata Elfi, sebelumnya pihak sekolah harus mensosialisasikan kepada pihak orang tua murid. Karena jika ada keberatan bisa disampaikan secara tertulis.” Tapi kalau ada orang tua keberatan , boleh disampaikan secara tertulis. Dan biasanya sekolah sudah memberitahukan orang tua terlebih dahulu. ” Jelasnya. (Fer)

Komentar Akun Facebook