ads

Jambiline.com, Jambi- Dalam kurun waktu 25 tahun, dari tahun 1990 hingga 2015 lalu, Pulau Sumatera Kehilangan lebih dari 9 juta Ha Hutan. Akibat berkurangannya tutupan hutan tersebut akan membawa dampak yang negatif bagi kehidupan masyarakat.

Sukri Sa’ad selaku Anggota Dewan Pengawas Komunitas Konservasi Indonesia WARSI, dampak akibat habisnya hutan yang muncul adalah kerusakan ekologi dan hilangnya plasma nutfah dan cadangan biodiversity penting, kondisi ini memicu bencana ekologis dan perubahan iklim.

WARSI mencatat dalam kurun 2010 sampai dengan 2016 tercatat korban meninggal akibat banjir dan longsor 46 orang, sedangkan korban meninggal akibat bencana penambangan illegal dari tahun 2012 hingga 2016 tercatat sebanyak 55 orang.

“Ada juga menyebabkan berkurangnya sumber pangan dan ketersediaan air bersih, dampak ini paling dirasakan oleh kelompok masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan dengan kondisi ekonomi yang juga masih rendah,” jelasnya.

Selain itu, dampak lainnya adalah konflik lahan yang tidak kunjung selesai, WARSI mencatat sejak beberapa tahun lalu, konflik lahan terus saja terjadi. Di Jambi pada tahun 2013 ada sekitar 23 kasus, 2014 ada sekitar 16 kasus, 2015 ada sekitar 25 kasus dan 2016 ada sekitar 8 kasus.

“Konflik-konflik lahan ini melibatkan perusahaan besar HTI dan perkebunan sawit,” pungkasnya. (TS)

Komentar Akun Facebook