Terdakwa Saat Menjalani Sidang di Pengadilan Negeri Mauara Bulian.

Jambiline.com, Batanghari – Nursaid (69), warga Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, divonis 15 tahun penjara dan denda 1 miliar, subsidair 3 bulan kurungan penjara, karena terbukti secara sah dan meyakinkan dengan kekerasan memaksa anak angkatnya STA (16) melakukan hubungan badan.

Putusan tersebut dijatuhkan oleh PN Muara Bulian, dengan Hakim Ketua Derman P. Nababan, Rais Torodji dan Ultry Meilizayeni sebagai Hakim Anggota.

“Putusan kemarin, dan baru hari ini kita kirim reales kepada teman -teman media,” ujar Derman P. Nababan, Kamis (7/3/19).

Dirinya menuturkan, korban STA, Ia telah dipaksa oleh terdakwa untuk melakukan layaknya hubungan suami istri sebanyak 7 hingga sampai 10 (sepuluh) kali, namun menurut Terdakwa lebih kurang 4 kali.

Hal tersebut terjadi pada bulan Oktober 2016 sekira pukul 15.00 WIB di rumah terdakwa dimana anak korban tinggal, dan pada saat itu istri terdakwa sedang bekerja mencetak batu bata.

Korban yang berada di rumah sedang nonton televisi sambil berbaring. Kemudian datang Terdakwa berbaring dekat korban dan mencium pipi kanan korban.

Lalu lorban berkata “bapak nih mau ngapoin?, dan dijawab oleh terdakwa “sudahlah diam be” kemudian langsung membuka rok korban ke atas dan juga membuka celana dalam korban. Namun anak korban meronta sambil mengatakan “bapak nih mau ngapoin aku dak mau dikayak giniin”.

Kemudian Terdakwa membekap mulut korban dengan tangannya, selanjutnya terdakwa langsung menyetubuhi korban.

Puas melampiaskan hasratnya, Terdakwa melarang korban untuk tidak menceritakannya kepada istri Terdakwa ataupun orang lain, jika diberitahukan, korban tidak diperbolehkan sekolah. Dan setiap selesai melakukan perbuatan bejatnya tersebut, Terdakwa selalu memberikan uang kepada korban.

Korban merasa takut jika dihentikan sekolahnya, maka perbuatan tersebut berlanjut, hingga akhirnya korban tidak tahan lagi dan sering menangis.

Melihat korban sering menangis istri Terdakwa yang merupakan ibu angkat korban merasa curiga.

Lalu menanyakan mengapa anaknya sering menangis, akhirnya mengakulah kalau korban sudah sering disetubuhi oleh bapak angkatnya sendiri.

Atas kejadian tersebut akhirnya ibu angkat korban melaporkan tindakan bejat suaminya ke pihak Kepolisian.

Akibat kejadian itu, anak korban merasa trauma dan putus sekolah. Istri Terdakwa sendiri sangat merasa malu di kampung tersebut, apalagi selama ini Terdakwa dikenal sebagai panutan di Kampung.

Tidak kuat menanggung rasa malu, akhirnya istri Terdakwa menggugat cerai Terdakwa. Majelis Hakim berpendapat, bahwa keadaan yang memberatkan Terdakwa, akibat Perbuatan Terdakwa menimbulkan trauma bagi saksi anak korban.

Terdakwa dikenakan pasal 81 ayat (3) jom pasal 76D undang-undang nomor 35 tahun 2014, Jo. Pasal 64 KUH pidana, dengan kurungan 15 tahun penjara. (Rhi)

Komentar Akun Facebook